sebagai warga masyarakat yang baik kang Badrun selalu mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh desa ataupun pengurus RT tempat kang Badrun tinggal. Mulai dari kerja bakti massal hingga kagiatan rutinan sosial, keagamaan ataupun yang bersifat Nasional. Tidak hanya itu saja yang dialakukan oleh kang Badrun, tapi ia juga ikut membiayai kegiatan alias ikut iuran. “idep-idep nyumbang dan bekal di hari akhir” katanya.
Meskipun tidak banyak paling tidak Rp 5000 kang Badrun memberikan kepada kang Soleh petugas penarik iuran dengn panuh ikhlas.
” Hanya segini yang bisa saya berikan kang soleh” kata kang Badrun merendah sambil memberikan uang Lima ribuan. kang Soleh pun menerimanya sembari mencatat sumbangan Kang Badrun pada selembar kertas putih lengkap dengan tanda tangan Kang Badrun sebagai tanda bukti.
” Meskipun hanya lima ribu sudah sangat berarti bagi kami sebagai panitia tujuh belasan. semoga amal ibdah kang Badrun diterima oleh Allah dan bisa menambah berat timbangan amal kebajikan Kang Badrun kelak di hari akhir” Jawab kang Soleh.
setelah selesai kang Soleh mohon pamit kepada kang Badrun. namun belum sempat ia keluar rumah, kang Soleh berbalik menghadap kang Badrun. sepertinya ada yang lupa yang belum ia sampaikan.
” E…ee maaf kang ada yang ketinggalan ?”. Tanya kang Badrun.
” Ya kang ada yang lupa, untuk acara besok kang Badrun dimintai juga sepuluh bungkus snack ( Makanan ringan ). Kang soleh segera pergi, sementara kang Badrun menatapnya dengan muka berkerut……
hari berganti hari. setelah bulan agustusan selesai bulan selanjutnya juga ikut berputar. ….kali ini adalah bulan Ruwah. pada bulan ini masyarakat desa mengadakan kegiatan Dangir Kuburan, memberishkan makam-makam para leluhur desa dan juga anggota keluarga yang sudah meninggal……
seperti biasanya kang Badrun juga ikut nyumbang tiga bungkus Berkat ( Makanan dalam kardus ) kepada panitia. Namun setelah acara itu selesai….lima hari kemudian kang Badrun harus mengeluarkan dari dalam kantongnya untuk sumbangan acara pengajian……Khataman….anak-anak. Pada acara ini dirinya merasa sedikit sakit hati…karena selama ini ia tidka pernah mengikuti acara di Musholla tersebut…bahkan untuk sholat saja ia ikut di Musholla yang terdekat dengan rumahnya….akhirnya lama kelamaan iapun menjadi jengkel dengan banyaknya tarikan dana untuk kegiatan sosial……didalam hatinya ia ingin memberontak dengan keadaan ini, apalagi sekarang juga BBM NAIK dan langka…..tapi ia hanya bisa memberontak pada….hatinya sendiri…Tradisi itu sudah lama mengakar sebelum ia lahir/…….
0 Tanggapan ke “Tradisi Kang Badrun”